BANTUL (KRjogja.com) - Kota Yogyakarta mengalami inflasi sebesar 0,96 persen pada Januari 2013 akibat kenaikan harga daging ayam ras sebesar 12,2 persen sehingga memberi andil positif tinggi terhadap inflasi 0,14 persen. Karena itu, laju inflasi tahun kalenderJanuari 2013 terhadap Desember 2012 sebesar 0,96 persen.

Sedangkan laju inflasi year on year Januari 2013 terhadap Januari 2012 sebesar 5,04 persen. Kepala Bidang Statistk Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Haryono mengatakan curah hujan yang tinggi yang menyebabkan bencana banjir dan terganggunya produktifitas daerah penghasil komoditi pertanian. Kondisi ini mengakibatkan berkurangnya pasokan di pasaran. "Pasokan yang berkurang di satu sisi dan permintaan yang tetap di sisi lain akan menyebabkan kenaikan harga sehingga kondisi ini pada akhirnya mendorong inflasi.

Kenaikan harga daging ayam ras telah ikut mendorong terjadinya inflasi yang disusul mahalnya harga daging sapi di Kota Yogyakarta yang mengalami inflasi 0,96 persen," papar Haryono dikantornya, Jumat (01/02/2013) Haryono menjelaskan kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks yaitu kelompok bahan makanan naik 4,68 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau naik 0,21 persen, kelomppk perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,31 persen, kelompok sandang naik 0,10 persen. "Tiga kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan yaitu kelompok kesehatan turun 0,02 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga turun 0,02 persen dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan turun 0,23 persen," tuturnya.

Dari 66 kota yang dihitung angka inflasinya pada Januari 2013, sebanyak 62 kota mengalami infasi sedangkan empat kota lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Sibolga yaitu sebesar 3,78 persen, inflasi terendah terjadi di Kota Pontianak sebesar 0,01 persen, Deflasi terbesar terjadi di Kota Sorong sebesar 0,98 persen sedangkan deflasi terkecil yaitu 0,20 persen terjadi di Kota Ternate. (Fir)