c_300_225_16777215_00_images_news_762db5a489331e8d25075bdeec2b99b9.jpg

Pemda DIY tengah membuat rencana kerja dan pendataan komoditas bahan pangan di DIY baik asal maupun besaran volumenya. Di samping itu, Pemda tengah menyoroti pengaturan tata niaga bahan pangan di DIY yang dinilai terlalu panjang hingga sampai pada konsumen tingkat akhir, paling tidak Pemda bisa melakukan intervensi harga khususnya terkait komponen volatile food.

Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan SDA Setda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti mengaku telah membuat rencana kerja menindaklanjuti hasil nota kesepakatan dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) RI yang diteken belum lama ini. Rencana kerja tersebut akan menyoroti hal-hal yang bisa dikomunikasikan, termasuk stabilitas harga yang tidak bisa dilepaskan dari stabilitas ketersediaan bahan pangan.

"Ketika stok bahan pangan itu berkurang, pastinya harga itu menjadi tinggi. Pemda DIY juga telah melakukan inisiasi membentuk Badan Usaha Daerah yang masuk sebagai upaya untuk mengamankan dan menjaga cadangan pangan di DIY, jadi kami terus melakukan komunikasi intens dengan KPPU RI, memungkinkan tidak DIY untuk membentuk Badan Usaha tersebut," ungkap Made di Komplek Kepatihan.

Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi DIY adalah data mengenai pasokan bahan pangan karena terkait tata niaga. DIY mempunyai tiga barometer untuk itu yaitu Pasar Beringharjo, Pasar Kranggan, dan Pasar Demangan. Ketiga pasar yang menjadi barometer tersebut akan didata asal dan volume komoditi bahan pangan yang masuk ke DIY dan sebaliknya.