c_300_225_16777215_00_images_news_52d5ec9ff692428fa18c5c6e6da67206.jpg

Inflasi DIY 2019, diyakini akan berada pada sasaran 2019, yakni 3.5 persen + 1 persen (yoy) dengan kecenderungan bias bawah dalam sisa waktu 2 bulan terakhir. Bank Indonesia bersama dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY terus berkoordinasi dan berinovasi agar capaian inflasi berada pada sasaran yang ditetapkan.

"DIY kembali mengalami inflasi sebesar 0,18% (mtm) pada Oktober 2019. Dengan realisasi tersebut laju inflasi tahu kalender 2019 mencapai 1,95% (ytd) dan inflasi tahunan 3,04% (yoy). Inflasi tersebut disebabkan peningkatan tekanan pada kelompok inflasi inti dan kelompok harga yang diatur pemerintah. Adapun kelompok harga pangan bergejolak masih mengalami penurunan harga," tutur wakil ketua TPID DIY Hilman Tisnawan.

Hilman mengatakan, kelompok Volatile food tercatat mengalami deflasi -0,88% (mtm), utamanya dipicu penurunan harga komoditas cabai merah -14,18 peren, cabai rawit -14,70 persen dan telur ayam ras -7,20 persen. Pada komoditas anekan cabai, panen raya yang terjadi di berberapa sentra produksi di Sleman dan Kulon Progo menyebabkan pasokan di pasar semakin stabil sehingga harga cenderung melandai. Sementara itu pada komoditas telur ayam ras kembali mengalami penurunan harga.

"Rata-rata harga komoditas telur ayam ras di tingkat pengecer Rp 20.450/kg berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis  (PIHPS). Deflasi tersebut disebabkan pasokan telur di pasar tidak sepenuhnya terserap konsumen," ujarnya.

Sementara itu, Hilman menuturkan inflasi pada kelompok itu cenderung meningkat dengan capaian 0,33 persen (mtm) yang disebabkan siklus inflasi pendidikan. Tarif akademi dan perguruan tinggi kembali meningkat yakni 5,31 persen (mtm), sehingga sepanjang tahun 2019 kenaikan tarif pendidikan tinggi telah meningkat 6,19 persen (yoy). Hal ini menyebabkan inflasi pendidikan di DIY secara keseluruhan telah meningkat menjadi 6,03 persen (yoy), yang menjadi peningkatan tarif pendidikan tertinggi dalam lima tahun terakhir. Semakin maraknya sekolah swasta bertaraf internasional turut menyebabkan inflasi pendidikan di DIY cenderung tinggi.

"Adapun kelompok Administered prices mengalami inflasi 0,29 persen (mtm), utamanya dipicu oleh peningkatan bahan bakar rumah tangga yakni 1,26 persen (mtm) dan tarif angkutan udara 0,56 persen (mtm). Kelangkaan LPG 3kg di beberapa daerah menyebabkan harga di pasar cenderung meningkat," tambah Kepala Perwakilan BI DIY.

TPID DIY akan terus memastikan harga di tingkat retail tidak melebihi harga eceran tertinggi, sehingga harga bahan bakar rumah tangga dapat terjaga stabil. Sementara itu menjelang akhir tahun, trafik angkutan udara  kembali meningkat. Semakin maraknya agenda MICE turut berperan dalam meningkatkan permintaan transportasi, khususnya angkutan udara.

Sumber: Kedaulatan Rakyat, 5 November 2019