c_300_225_16777215_00_images_news_e469da9e8d09fbdfc5e5a308b12aae74.jpg

Pada Oktober 2019, DIY kembali mengalami inflasi sebesar 0,18% (mtm). Deangan realisasi tersebut laju inflasi tahun kalender 2019 mencapai 1,98% (ytd) dan inflasi tahunan 3,04% (yoy). inflasi disebabkan oleh peningkatan tekanan pada kelompok inflasi inti dan kelompok Administered prices, sedangkan kelompok volatile food masih mengalami penurunan harga.

Kelompok volatile food tercatat mengalami deflasi sebesar -0.53% (mtm), utamanya dipicu oleh penurunan harga komoditas cabai merah, cabai rawit, dan telur ayam ras. Turunnya harga aneka cabai disebabkan oleh mulai panennya di beberapa sentra produksi di Sleman dan Kulon Progo sehingga pasokan di pasar semakin stabil dan harga cenderung melandai. Sementara turunnya harga komoditas telur ayam ras disebabkan oleh pasokan telur di pasar tidak sepenuhnya terserap oleh konsumen, sehingga harga cenderung menurun.

Beberapa komoditas mengalami peningkatan harga yakni daging ayam ras mengalami peningkatan harga di tingkat produsen menjadi Rp 20.700/kg dan tingkat pengecer mencapai Rp 32.600/kg. tingkat harga tersebut masih dalam rentang harga yang wajar, mengingat dalam 2 bulan sebelumnya tingkat harga produsen berada di bawah break-even poin (BEP) pada kisaran Rp18.000/kg. peningkatan harga tersebut terjadi secara nasional, sebagai dampak dari pengurangan day old chicken (DOC), sehingga stok daging ayam menjadi lebih terkendali. Sementara itu komoditas bawang merah turut mengalami peningkatan harga, setelah 3 bulan berturut-turut mengalami penurunan harga pasca panen raya. 

Kelompok inti cenderung meningkat dengan capaian 0,33% (mtm),yang disebabkan oleh tarif akademi dan perguruan tinggi. semakin maraknya sekolah swasta bertaraf internasional turut mendongkrak inflasi pendidikan di DIY. Selain itu harga ayam goreng juga ikut memberikan andil inflasi pada kelompok inti.

Kelompok administered prices mengalami inflasi 0,28% (mtm), utamanya dipicu oleh peningkatan bahan bakar rumah tangga dan tarif angkutan udara. kelangkaan LPG 3kg di beberapa daerah menyebabkan harga di pasar cenderung meningkat. Sementara itu menjelang akhir tahun, lalu lintas angkutan udara kembali meningkat. Semakin maraknya agenda Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) turut berperan meningkatkan permintaan transportasi, khususnya angkutan udara.