Dinas Perindustrian dan Perdagangan Daerah Istimewa Yogyakarta menyatakan tidak dapat mengintervensi melambungnya harga cabai rawit merah di sejumlah pasar tradisional setempat yang saat ini telah mencapai Rp95.000 per kilogram.

"Tidak bisa karena cabai tidak seperti beras yang bisa diatur tata niaganya," kata Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY Yuna Pancawati di Yogyakarta, Jumat.

Menurut Yuna, tren kenaikan harga cabai rawit merah sudah berlangsung sejak libur Natal 2016. Kenaikannya disebabkan pengaruh cuaca ekstrem yang membuat petani cabai setempat gagal panen karena tanaman rusak dan terserang penyakit.

Dengan demikian pasokan cabai di Yogyakarta terbanyak dipasok dari para petani di Magelang, Jawa Tengah. Selain diminati pedagang dari Yogyakarta, cabai asal Magelamg juga diperebutkan oleh banyak pedagang di daerah lain.

"Kami hanya bisa mengimbau kepada masyarakat agar tidak panik dengan kenaikan itu dan membeli sesuai kebutuhan," kata dia.

Selain cabai rawit merah, menurut Yuna, berdasarkan pantauan pada 4 Januari 2016 di Pasar Demangan, Pasar Bringharjo, dan Pasar Kranggan Yogyakarta sejumlah jenis cabai lain juga masih stabil tinggi. Seperti cabai rawit hijau masih dijual Rp55.333 per kg, cabai merah besar dan cabai merah keriting Rp33.333 per kg.

Kepala Subbidang Distribusi Pangan Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY Sumaryatin mengatakan tren kenaikan cabai itu disebabkan minimnya stok di tingkat pedagang.

Menurut dia, selain disebabkan kondisi cuaca yang tidak mendukung, minimnya persediaan cabai rawit merah itu memang disebabkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap komoditas itu selama libur Natal dan Tahun Baru 2017 yang bersamaan dengan momentum libur sekolah.

"Musim liburan membuat permintaan naik, sementara panen tidak menentu," kata dia.

Sumaryatin mengatakan selama ini pasokan cabai untuk para pedagang di DIY paling banyak didukung oleh produksi petani cabai di wilayah Sanden, Bantul; Panjatan, Kulon Progo. "Di Sleman juga ada tetapi kebanyakan untuk dikonsumsi sendiri," kata dia.

 

(sumber: http://jogja.antaranews.com/)