YOGYA - Harga sejumlah bahan pokok terus merangkak naik usai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada Sabtu (22/6/2013).

Berdasarkan pantauan Tribun Jogja di Pasar Beringharjo, begitu harga BBM diumumkan naik Jumat malam, harga daging ayam ras mulai merangkak naik pada esok harinya. Jika harga semula hanya Rp 25 ribu per kilogram menjadi Rp 27 ribu per kilogram. Meski kenaikan harga yang terjadi tidak terlalu signifikan, namun diprediksi harga akan terus merangkak naik memasuki masa liburan dan lebaran.

"Pasti naik, seperti saat lebaran-lebaran sebelumnya. Kalau mau protes malah nggak dapat barang. Yang penting pasokannya normal, jangan sampai tersendat soalnya permintaan juga naik kalau liburan," ucap seorang pedagang ayam di Pasar Beringharjo, Partini, Minggu (23/6/2013).

Harga telur ayam bahkan sudah naik lebih dulu sebelum kenaikan harga BBM ditetapkan. Sekitar dua pekan lalu, harga telur Rp 16 ribu per kilogram. Namun, beberapa hari menjelang kenaikan harga BBM, harga telur sudah mencapai Rp 19 ribu per kilogram.

Meski demikian, ada beberapa jenis sayuran yang harganya masih stabil bahkan turun dalam sehari terakhir. Seorang pedagang sayuran, Subandiono (62) mengatakan, harga sayur-sayuran meliputi wortel, tomat, kentang masih cenderung stabil. Belum ada peningkatan harga yang cukup signifikan.

"Harga cabai merah bahkan menurun karena pasokannya sudah lancar lagi. Kemarin Rp 36 ribu per kilogram, sekarang Rp 34 ribu pe rkilogram. Tapi perubahan harganya memang cepat sekali. Kalau saya beli mahal, ya saya jual mahal," ucap Subandiono sembari meladeni pembeli.

Menurutnya, harga sayuran memang tidak serta merta terkatrol oleh kenaikan harga BBM. "Kalau sayuran tergantung pasokan. Kalau lancar, ya harganya bisa turun," ucap pria yang biasa mendapatkan pasokan sayuran dari wilayah Wonosobo, Magelang, dan Jawa Barat tersebut.

Sebelumnya, PLT Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan Pertanian (Disperindagkoptan) Kota Yogyakarta, Aman Yuriadijaya siap melakukan intervensi pasar untuk mengantisipasi lonjakan harga yang tidak wajar. Sebab, kemungkinan lonjakan harga sangat mungkin terjadi lantaran kebijakan kenaikan harga BBM berbarengan dengan momentum Lebaran dan tahun ajaran baru.

"Kami coba terus menekan dampak psikologis warga dengan berkomunikasi dengan asosiasi pedagang, UMKM dan lain sebagainya," pungkasnya.