Yogyakarta - Dinas Perindustria dan Perdagangan Koperasi UMKM Daerah Istimewa Yogyakarta menilai kenaikan bahan bakar minyak bersubsidi belum memiliki dampak signifikan terhadap berbagai kebutuhan pokok di daerah ini.

Kepala Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop UKM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Eko Witoyo di Yogyakarta, Rabu, Mengatakan kenaikan beberapa bahan kebutuhan pokok disebabkan karena faktor cuaca yang menyebabkan ketidak lancaran pasokan, keperluan hajatan serta melonjaknya kebutuhan menjelang ramadhan dan lebaran.

"Saat ini kondisi harga kebutuhan pokok di pasaran justru fluktuatif. Kalaupun ada kenaikan disebabkan faktor lain daripada kenaikan BBM", katanya.

Menurut dia, secara umum dari pihak produsen serta distributor menghendaki kenaikan bahan poko tiga persen dengan catatan apabila fungsi distribusi lancar.

"Kalau kami (Disperindagkop) tidak berwenang untuk menentukan presentase kenaikan harga kebutuhan pokok. Terkait harga semua kami serahkan kepada mekanisme pasar", katanya.

Sementara itu, menurut Eko, kenaikan harga BBM bersubsidi baru akan terasa setelah tujuh hari pasca kenaikan.
Apalagi, kata dia, bahan kebutuhan pokok di DIY sebagian besar masih membutuhkan pasokan dari luar daerah. Daerah pemasok kebutuhan pokok antara lain Muntilan, Magelang, Boyolali serta Klaten, Jawa Tengah.

"Dari luar daerah seperti beras Mentik Wangi, Delanggu, Gula pasir Madukismo serta sebagian sayuran", katanya.

Sementara itu untuk mengawasi kenaikan harga kebutuhan pokok terlalu berlebihan, saat ini pihaknya menggencarkan operasi pasar. Operasi pasar tersebut dioptimalkan di beberapa pasar induk antara lain Pasar Kranggan, Pasar Demangan, Pasar Beringharjo.

"Saat ini memanga ada kenaikan seperti cabai merah keriting Rp 23.000,- per kilogram menjadi Rp 26.000,- per kilogram, namun ada juga yang turun tepung terigu segitiga biru dari Rp 7.500,- menjadi Rp 7.334,- per kilogram", katanya.

(Sumber: http://jogja.antaranews.com)